Banjir Solo Bukan Kejutan, Mitigasi Perubahan Iklim Harus Jadi Prioritas Kesehatan Publik

Banjir Solo Bukan Kejutan, Mitigasi Perubahan Iklim Harus Jadi Prioritas Kesehatan Publik. (KlikSoloNews/dok PMI)

SOLO, KLIKSOLONEWS.COM – Banjir yang kembali melanda Surakarta menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan serius dalam kesehatan publik.

Banjir di Solo bukan kejutan. Ini adalah konsekuensi yang sudah lama kita tahu, tetapi belum cukup kita siapkan,

Bacaan Lainnya

Menurut World Health Organization (WHO), perubahan iklim merupakan ancaman terbesar bagi kesehatan global di abad ke-21. WHO bahkan memperkirakan akan ada tambahan 250.000 kematian per tahun pada periode 2030–2050 akibat penyakit seperti diare, malnutrisi, malaria, dan stres panas.

Sementara itu, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menegaskan bahwa intensitas hujan ekstrem terus meningkat, yang berujung pada makin seringnya bencana hidrometeorologi seperti banjir.

Di Indonesia, data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen bencana merupakan bencana hidrometeorologi, termasuk banjir dan longsor.

Hal ini diperkuat data BMKG yang mencatat peningkatan curah hujan ekstrem berdurasi singkat serta pola musim yang semakin sulit diprediksi.

Dampak perubahan iklim paling terasa pada kelompok rentan, khususnya anak-anak. Risiko kesehatan meningkat signifikan, terutama pascabanjir.

Beberapa dampak yang sering muncul antara lain:

  • Peningkatan penyakit diare dan penyakit berbasis air
  • Lonjakan kasus ISPA akibat kelembapan tinggi
  • Penyakit kulit karena sanitasi buruk
  • Risiko penyakit vektor seperti DBD

Tak hanya kesehatan, dampak juga merambah sektor pendidikan. Sekolah sering diliburkan akibat banjir, lingkungan belajar menjadi tidak aman, serta konsentrasi anak menurun.

Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak, memicu stres dan trauma, hingga menurunkan kualitas kesehatan generasi mendatang.

UNICEF juga menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, baik secara fisik maupun psikososial.

Masalah Utama: Respons Masih Reaktif

Ardi menilai, persoalan utama bukan hanya perubahan iklim itu sendiri, tetapi cara penanganannya yang masih reaktif.

Penanganan sering dilakukan setelah bencana terjadi, bukan melalui upaya pencegahan. Dalam konteks krisis iklim, mitigasi dan kesiapsiagaan adalah kunci utama.

Untuk menghadapi kondisi ini, diperlukan langkah strategis yang terintegrasi, antara lain:

1. Mitigasi berbasis tata kota

  • Penataan ulang daerah resapan air
  • Perbaikan sistem drainase perkotaan
  • Pengendalian alih fungsi lahan

2. Kesiapsiagaan bencana

  • Sistem peringatan dini berbasis teknologi
  • Simulasi bencana rutin
  • Edukasi masyarakat berbasis risiko

3. Peran sekolah

  • Integrasi kurikulum perubahan iklim dan kesehatan
  • Edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
  • Program kesiapsiagaan bencana bagi siswa

4. Sistem kesehatan adaptif iklim

  • Pemantauan penyakit berbasis iklim
  • Penguatan layanan kesehatan primer
  • Antisipasi lonjakan penyakit pascabencana

Banjir di Solo menjadi bukti nyata perubahan iklim sudah terjadi dan dampaknya semakin luas. Oleh karena itu, pendekatan harus segera berubah dari sekadar menangani bencana menjadi mencegah dampaknya sejak awal.

Perubahan iklim itu nyata. Jika kita terus reaktif, kita akan terus menjadi korban.

Mitigasi perubahan iklim kini bukan hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga melindungi kesehatan masyarakat dan masa depan generasi.(KS01)

  • Oleh: dr. MN. Ardi Santoso, Sp.A, Pediatric Health Educator, (Instagram: ardisantoso).

About The Author

Pos terkait